Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

gabunglah dengan ribuan orang pecinta "HIDUP sehat"

Kandungan dan Manfaat Daun Singkong

Written By Admin on Wednesday, 24 October 2012 | 17:17

Siapa yang tidak kenal daun singkong? Daun singkong memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Mari kita mengenal daun singkong lebih dekat. Selamat membaca:)
Daun singkong juga dikenal dengan nama daun ubi kayu atau daun ketela pohon. Daun singkong pun dikenal diberbagai daerah diantaranya dengan nama daun sampeu (Sunda), godong bodin (Jawa), daun keutila (Aceh). Daun singkong memiliki nama latin yaitu Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta Crantz sin., dalam bahasa inggris dikenal dengan nama cassava leaves. Daun singkong termasuk dalam klasifikasi:
Kerajaan         : Plantae
Divisi              : Spermatophyta
Kelas              : Dicotyledoneae
Ordo               : Euphorbiales
Famili              : Euphorbiaceae
Bangsa            : Manihoteae
Genus             : Manihot
Daun singkong memiliki ciri-ciri berdaun besar, menjari dengan lima hingga sembilan belahan lembar daun, bertangkai panjang. Daunnya menjari dengan beberapa variasi bentuk yaitu panjang, elips dan melebar yang bergantung pada jenis varietasnya. Daun muda untuk semua varietas berwarna hijau kemerahan sedangkan warna daun tua berwarna hijau.
Daun singkong biasa dibuat sebagai masakan sayur dengan kuah santan atau dimakan setelah direbus. Daun singkong memiliki dua varietas, yaitu varietas manis dan pahit. Varietas manis mengandung asam sianida lebih sedikit dari varietas pahit sehingga daun singkong muda dari varietas manis umum digunakan.
Komposisi kimia daun singkong/100 g bagian yang dapat dimakan mengandung beragam zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh diantaranya:
Komposisi
Jumlah
Karbohidrat
7.1 g
Protein
6.2 g
Lemak
1.1 g
Serat
2.4 g
Abu
1.2 g
Kalsium
166 mg
Fosfor
99 mg
Besi
1.3 g
Karoten total
7052 µg
Vitamin A
0 SI
Vitamin B1
004 mg
Vitamin C
130.0 mg
Air
84.4 g
Daun singkong kaya akan protein dengan daya cerna 70-80% (tergantung varietas). Selain kandungan metionin, lisin dan mungkin isoleusin yang rendah, kualitas protein daun singkong tidak kalah dengan susu, keju, kedelai, ikan dan telur. Selain itu daun singkong juga kaya protein, karoten, vitamins B1, B2, dan C, serta mineral.
Senyawa antinutrisi yang membatasi penggunaan daun singkong adalah kandungan hidrogen sianida (HCN), tannin dan asam fitat. HCN dalam jumlah lebih dari 1 mg/kg bb per hari dapat menimbulkan gangguan kesehatan. HCN terbentuk dari senyawa glikosida sianogenik singkong yaitu linamarin dan lotaustralin.  Tetapi proses pengolahan dapat mengurangi kadar HCN yang terbentuk, seperti kombinasi pemotongan dan pengeringan dapat mengurangi tingkat HCN hingga level yang tidak berbahaya. Oleh karena itu proses pengolahan sangat penting untuk mengurangi bahaya HCN.
Klorofil pada daun singkong memiliki efek hipokolesterolemia pada percobaan dengan tikus. Daun singkong memiliki efek farmakologis sebagai antioksidan, antikanker, antitumor, dan menambah nafsu makan. Isolat protein pada daun singkong memiliki kemampuan mencegah antiagregasi platelet sehingga berpotensi mencegah penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung.

DAFTAR PUSTAKA
de Almeida Siqueira, E.M., S. F. Arruda, R.M. de Vargas, E.M. T. de Souza. 2007. β-Carotene from cassava (Manihot esculenta Crantz) leaves improves vitamin A status in rats. Journal of Comparative Biochemistry and Physiology:235-240.
Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta: Bharata Karya Aksara.
Eggum, BO. 1970. Protein quality of cassava leaves. Br, J. Nutr. 24, 761.
Ernawaty, E. 2001. Potensi Aktivitas Antiagregasi Platelet Lalap: Buah Tomat, Daun Singkong, Kol Serta Pemanfaatannya Pada Jeli Agar. Skripsi Fateta, IPB.
Fasuyi, AO. 2005. Nutrient composition and processing effects on cassava leaf (Manihot esculenta Crantz) antinutrient. Pakistan Journal of Nutrition (4) 1:37-42.
Hariana, A. 2008. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Penebar Swadaya, Jakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
Prawat, H., C. Mahidol, S. Ruchirawat, U. Prawat, P. Tuntiwachwuttikul, U. Tooptakong, W. C. Taylor, C. Pakawatchai, B. W. Skelton, A. H. White. 1995. Cyanogenic and non-cyanogenic glycosides from Manihot esculenta.  Journal of Phytochemistry, Pp  1167-1173
Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi. 1995. World Vegetable Principles, Production and Nutritive Value. Diterjemahkan oleh Herison, C. ITB, Bandung.
Sentra Informasi Keracunan Nasional BPOM. 2010. Racun Alami pada tanaman. www.pom.go.id/public/siker/desc/produk/racunalamitanaman.pdf  [2 Maret 2010]
Tutik, W dan E. Prangdimurti. 2006. Deteksi secara imunohistokimia antioksidan superoksida dismutase (sod) pada jaringan kelinci hiperkolesterolemia yang diberi pakan klorofil daun singkong. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/6316  [diakses 4 Maret 2011].
17:17 | 0 comments

Bloosom-end Root alias Busuk Pantat Tomat, Mudah Penangangannya

Written By Admin on Thursday, 4 October 2012 | 18:04

Gambar: LAN, 2012
Bercak coklat yang muncul di ujung buah tomat seperti pada gambar diatas sering muncul pada tanaman tomat. Merusak tampilan buah dan menurunkan nilainya, seperti tomat busuk. Penampakannya seperti terserang penyakit tomat, tetapi sebenarnya ini adalah gejala klasik yang muncul karena gejala fisiologis akibat ketidak seimbangan kalcium pada tanaman. Selain menyerang tomat,gejala ini juga dapat menyerang tanaman lada, labu, dan semangka.

Biasanya menyerang pada saat ukuran tomat sudah mencapai setengah dari ukuran maksimal. Gejalanya muncul sebagai bintik-bintik bulat di bagian pantat buah yang berlawanan dengan ujung pangkal batang dari buah tomat. Bintik coklat ini terlihat seolah direndam air kemudian akan berkembang menjadi hitam dan jika dibiarkan akan membusuk. Jika diraba dengan tangan akan terasa kasar dan diikuti serangan lanjutan dari jamur akibat lembabnya daerah yang berbintik coklat. Akhirnya tomat harus di ambil dan dibuang. Tapi kalau sayang masih bisa di jus kok ^^

Gejala ini biasanya muncul apabila musim tanam dimulai pada saat musim hujan ke 2 (MH 2) dan pada saat buah telah muncul, musim telah memasuki musim kemarau.

Kalsium dibutuhkan dalam konsentrasi yang relatif besar untuk pertumbuhan sel.Ketika buah sedang fase pertumbuhan dan kekurangan kalsium, jaringan akan rusak meninggalkan bekas yang khas di bagian pantat buah.

Beberapa hal yang dapat membatasi kemampuan tanaman untuk menyerap kalsium: kelebihan nitrogen di tanah, kerusakan akar saat pemupukan atau penanganan tanaman, pH tanaman yang tidak sesuai karakteristik tanaman, kelembapan tanah yang tidak stabil dan tak sesuai karakteristik, salinitas tanah yang tinggi, dan suhu tanah yang terlalu dingin. Selain itu curah hujan yang sangat tinggi juga dapat menutupi bulu akar tanaman sehingga mencegah penyerapan kalsium dari tanah sekitarnya.


Bagaimana cara mengatasinya?
tentu saja hilangkan faktor penyebabnya. Hehe. Yang terpenting untuk dilakukan adalah meningkatkan kualitas tanah di daerah pertanaman. 
  1. Seimbangkan kandungan nutrisi tanah. Apabila telah terjadi gejala, dapat ditambahkan dengan pupuk kalsium yang cepat di serap oleh tanah. 
  2. Hindari penggunaan pupuk N yang tinggi. Selain dapat mengurangi penyerapan kalsium, N yang tinggi meningkatkan resiko serangan penyakit.
  3. Jaga kelembapan tanah pada kondisi optimal. Apabila tanah terlalu kering, siram secukupnya hingga lapisan tanah sedalam 10 cm tetap basah. Tapi bukan banjir ya.^^. Lebih efektif apabila menggunakan mulsa perak.
  4. Jaga pH tanah pada titik sekitar 6,5
  5. Apabila telah ditanam, hindari penggemburan tanah yang terlalu dalam saat pembersihan gulma, karena dapat merusak akar
Mudah-mudahan bermanfaat
Oya, anda bisa download ebook TEKNIK LENGKAP BUDIDAYA TOMAT DI SINI



 "khasiat tomat", buah tomat, jus tomat, "kandungan tomat", manfaat tomat, budidaya tomat, tanaman tomat, tomat buah, tomat manfaat
untuk kecantikan, penyakit tumbuhan dan hama, pengendalian hama penyakit, hama pada tomat
hama penyakit tomat
18:04 | 0 comments

Kandungan dan Manfaat Labu Siam

Written By Admin on Tuesday, 2 October 2012 | 19:02


Mm.. lezatnya ketika menikmati lalapan dengan rebusan sayur buah berwarna hijau ini. Rasanya yang sejuk dingin menyegarkan, apalagi jika ditambah dengan sambal yang mantap.

Buah ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Memiliki beragam nama daerah diantaranya gambas (Sunda), walub jipang (Jawa). Nama latin dari buah labu siam yaitu  Sechium edule (Jacq.) Swartz.

Dalam bahasa inggris, buah labu siam ini dikenal dengan nama
chayote. Buah labu siam tergolong dalam ordoCucurbitales, family Cucurbitaceae dan genus Sechium.

Buah labu siam berwarna hijau dan memiliki bentuk yang bervariasi
diantaranya ada yang berbentuk bulat, bulat telur dan bulat memanjang, dengan alur-alur atau tonjolan. Buah ini memiliki panjang 4,3-26,5 cm dan lebar 3-11 cm. Buahnya gemuk, berair dan berserat. Dagingnya berwarna hijau muda keputihan dan rasanya manis atau tawar pada tanaman yang dibudidayakan dan pahit pada tanaman liar. Bijinya yang berbentuk bulat telur berada di dalam buah. Buah labu siam biasa direbus untuk dimakan sebagai lalap atau pecel. Selain itu juga dimasak sebagai sayur dengan kuah santan. Di samping buahnya, tangkai dan akarnya yang berumbi juga terkadang dikonsumsi.

Komposisi yang terkandung dalam 100 g buah labu siam segar diantaranya:

  • air 89,0-93,4 gram, 
  • protein 0,9-1,1 gram, 
  • lemak 0,1-0,3 gram, 
  • karbohidrat 3,5-7,7 gram, 
  • serat 0,4-1,0 gram, 
  • kalsium 12-19  mg
  • fosfor 4-30 mg
  • vitamin A 5 mg. 

Kandungan asam amino yang terdapat pada biji dan buah labu siam yaitu asam aspartat, asam glutamat, alanin,arginin, sistein, fenilalanin, glisin, histidin, isoleusin, leusin, methionin, prolin, serin, tyrosin, threonin dan valin. Wow, ternyata kandungan nutrisinya sangat banyak.

Kandungan nutris
i labu siam tersebut menjadikan labu siam cocok dijadikan makanan pada rumah sakit. Buah labu siam cocok untuk dibuat sebagai makanan bayi, jus dan saus disebabkan konsistensi dari buah labu siam yang lunak. Ramuan yang menggunakan daun atau buah labu digunakan untuk melancarkan kencing, menghilangkan rasa sakit saat kencing, meluruhkan batu ginjal serta untuk pengobatan bagi arteriosklerosis dan hipertensi Kemampuan diuretik dan anti peradangan pada buah dan daunnya telah dibuktikan oleh studi farmakologis.

DAFTAR PUSTAKA
Aung, L.H., A. Ball and M. Kushad. 1990. Developmental and nutritional aspects of chayote (Sechium edule, Cucurbitaceae). Econ. Bot. 44:157-164.
Bueno, R.R., S. Moura and O.M. Fonseca. 1970. Preliminary studies on the pharmacology of Sechium edule leaves extracts. An. Acad. Cien. Brasil40:285-289.
Engels, J.M.M. 1983. Variation in Sechium edule Sw. in Central America. J.Am. Soc. Hort. Sci.108:706-710.
Flores, E. 1989. El chayote, Sechium edule Swartz (Cucurbitaceae). Rev. Biol. Trop. 37 (Suplemento 1):1-54.
Liebrecht, S. and M. Seraphine. 1964. The edible portion and waste in foodstuffs consumed in a hospital in Southern India (Pondicherry). Nutrition 18:19-22.
Lira, R. 1988. Cucurbitaceae de la Península de Yucatán: Taxonomía y Etnobotánica. Tesis Maestría en Ciencias (Ecología y Recursos Bióticos), Instituto Nacional de Investigaciones sobre Recursos Bióticos.
Lozoya, X. 1980. Mexican medicinal plants used for treatment of cardiovascular diseases. Am. J. Chin. Med. 8:86-95.
Ribeiro, R. de A., F. de Barros, M.M.R. Fiuza de Melo, C. Muniz, S. Chieia, G. Wanderley, C. Gomes and G. Trolin. 1988. Acute diuretic effects in conscious rats, produced by some medicinal plants used in the state of Sao Paulo, Brasil. J. Ethnopharmacology 24:9-29.
Salama, A.M., H. Achenbach, L.M. Sánchez and G.M. Gutiérrez. 1987. Isolation and identification of anti-inflammatory glycosides from the fruit of Sechium edule. Rev. Colombiana Cienc. Quím. Farmac. 16:15-16.
Salama, A.M., N.A. Polo, M. Enrique, C.R. Contreras and R.L. Maldonado. 1986. Preliminary phytochemical analysis and determination of the anti-inflammatory and cardiac activities of the fruit of Sechium edule. Rev. Colombiana Cienc. Quím. Farmac.15:79-82.
Silva, C.R., H.C. Silva and J.E. Dutra de Oliveira. 1990. Conteúdos de celulose, hemicelulose e lignina em dieta hospitalar hipocalórica. Alimentos e Nutriçao2:65-71.
Yang, S.L. and T. Walters. 1992. Ethnobotany and the economic role of the Cucurbitaceae of China. Econ. Bot. 46:349-367.
Rafael Lira Saade. 1996. Chayote. Sechium edule (Jacq.) Sw. Promoting the conservation and use of underutilized and neglected crops. 8. Institute of Plant Genetics and Crop Plant Research, Gatersleben/International Plant Genetic Resources Institute, Rome, Italy. 
19:02 | 1 comments

Welcome Guys

ayo sehat tips sehat diabetes
makan sehat apa aja dimakan
oke lah kalo begitu

Categories